Sampai di rumah, kakak dan keponakan gua udah tidur semua kecuali yang nomer dua sama yang nomer empat. Dia lagi asyik nonton film. Penasaran, gua ikutan nonton.
"Presiden Jokowi juga nonton film ini di istana Jakarta katanya, om." Kata keponakan gua yang nomer dua, Sakti namanya. "Istana Negara lhe" kata gua, ngebenerin omongan keponakan gua.
Film ini judulnya "cahaya dari timur". Awalnya ampir gua ganti, secara udah pagi, gua kira FTV, takutnya tontonan yang ga bagus buat anak kecil, Tapi ternyata bukan. Film ini bikin gua kaget. Jalan ceritanya cakep. Bener - bener syarat akan makna dan pelajaran.
Film ini bercerita tentang seorang pria gagal, Sani Tawainella namanya, yang berjuang mengorbankan waktu, pikiran dan tenaganya buat ngelatih anak - anak maluku belajar sepak bola. Dia ngebangun itu semua ga sendirian, bareng sama temennya.
Awalnya niatan pria ini ingin mengalihkan perhatian anak - anak maluku supaya melupakan trauma dan konflik agama yang terjadi di maluku tahun 1999. Rencananya berhasil, tapi keadaan ekonomi keluarganya semakin berantakan.
Sani Tawainella, bekerja sebagai "tukang ojek" untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dalam hidup yang serba kekurangan, ia bersikeras untuk terus berjuang melatih anak - anak belajar sepak bola.
Waktu berlalu, anak - anak yang tadinya masih kecil - kecil akhirnya sudah beranjak dewasa. Sani Tawainella tidak berhenti berjuang melatih anak - anak maluku belajar sepak bola. Hingga suatu hari, dia dikagetkan dengan berita di surat kabar yang menyatakan bahwa kegiatan pelatihan sepak bola yang ia dirikan bersama temannya itu "didirikan oleh temannya".
Menyadari temannya telah menghianatinya, Sani Tawainella begitu kaget dan kecewa terhadap sahabatnya itu, ia memutuskan untuk berhenti melatih anak - anak dan kembali fokus mengurus keluarganya. Malamnya Sani pulang kerumah dan menangis di pelukan istrinya, Hapsa.
Dengan bijaknya, Hapsa menasihati suaminya agar tetap berlapang dada, yang terpenting tujuan Sani untuk membuat anak - anak maluku di daerah tulehu lupa dengan trauma dan konflik agama 1999 berhasil, dan juga mengingatkan Sani untuk tidak dendam dengan sahabatnya agar semua perjuangan dan pengorbanannya selama ini untuk menebar kedamaian tidak sia - sia.
Ceritanya engga berheti sampai di sini, beberapa waktu kemudian ada seorang guru yang datang ke pangkalan ojek dan mencari Sani. Inilah titik balik kehidupan seorang Sani Tawainella hingga bisa membawa anak - anak maluku juara di kompetisi sepak bola U-15. Ceritanya bagus. Bener - bener memotivasi penonton.
Buat yang dalam kondisi terpuruk, jatuh, gagal, kaya gimana pun buruknya kondisi elu, coba deh, tonton film satu ini. Insya Allah engga bakalan nyesel hehehe. Gua nonton ampe netes aer mata. Sial hahaha. Tapi yang jelas, bener - bener ini film pas banget, memotivasi gua yang saat ini dalam kondisi seperti "pecundang". Gagal, gagal dan gagal. Jatuh berkali - kali kaya keledai, sampe gua hampir lupa gimana caranya bangun.
Film ini, ngingetin gua bahwa sekeras apapun kita jatuh dan sekeras apapun kehidupan tidak berpihak kepada kita, yang perlu dilakukan cuma satu, "Bangun". Simple, yang bikin ga mudah cuma pikiran kita sendiri.
Thanks god, Alhamdulillah engkau telah menyadarkan hambamu ini dari tidur panjangnya.










0 komentar